Jejak Kejayaan Islam di Sicila
Sisilia adalah sebuah
pulau di laut tengah , letaknya berada di sebelah selatan semenanjung Italia,
dipisahkan oleh selat Messina. Pulau ini bentuknya menyerupai segitiga dengan
luas 25.708 km persegi. Sebelah utara terdapat teluk Palermo dan sebelah timur
terdapat teluk Catania. Pulau ini di sebelah barat dan selatannya adalah
kawasan laut Mediterranian, sebelah utara berbatasan dengan laut Tyrrhenian dan
sebelah timurnya berbatasan dengan laut Ionian.Pulau sisilia bergunung-gunung
dan sangat indah, iklimnya yang baik, tanahnya subur, dan penuh dengan kekayaan
alamnya. Pulau ini di bagi menjadi tiga bagian: Val di Mazara di sebelah
barat, Val di Noto di sebelah tenggara dan Val Demone di bagian timur laut.
Islam hanya menjadi agama resmi di Val di Mazara sedangkan di bagian yang
lainnya mayoritas beragama Kristen.
2. Sejarah Masuk Islam
Sebelum dikuasai Islam ,
Penguasaan pulau ini berpindah-pindah dalam beberapa abad mulai dari Yunani,
Cartage, Romawi, Vandals, dan Byzantium, kemudian dikuasai oleh kaum Muslimin. Pada
masa ekspedisi Islam zaman Umar bin Khattab (634-644 M), Sisilia
masih berada di tangan Byzantium. Mereka menjadikan pulau ini
sebagai markas tentara untuk menghadapi orang Islam. Pada masa Umar bin
Khattab, sebenarnya kaum muslimin sudah berniat untuk menaklukkan pulau
Sisilia. Akan tetapi Umar bin Khattab menolaknya, karena pulau ini sangat jauh
dari pusat pemerintahan Islam, medan ke sana sangat sulit ditempuh dan
daerah-deerah yang baru dikuasai harus dibenahi.
Niat kaum muslimin untuk
memasuki pulau ini baru terlaksana pada tahun 662, pada masa Utsman bin Affan
(644-645 M), usaha penaklukan sudah mulai dilakukan oleh gubernur di
Damaskus yakni Mu’awiyah bin Abu Sufyan (Khalifah pertama Bani Umayyah). Pada
tahun 652 M. Atas perintah Muawiyah dikirimlah pasukan dengan pimpinan
pasukan Mu’awiyah bin Khudaij. Sekalipun gagal, ia telah berhasil merampas
harta kekayaan perang dari pasukan Bizantium.
Serangan kedua dilakukan
pada tahun 667 M setelah Mu’awiyah menjadi khalifah. Pada zaman Abd Malik juga
dilakukan serangan, selanjutnya pada zaman al-Walid Ibn Abdul Malik.
Gubernur Afrika utara Musa Ibn Nushair setelah menguasai Andalusia juga
menyerang Sisilia di bawah pimpinan anaknya Abdullah.Setelah itu terus
dilakukan penyerangan-penyerangan terhadap wilayah ini, namun belum berhasil,
hanya mendapatkan harta rampasan perang.
Melihat serangan umat
terhadap Sisilia terus menerus dilakukan maka Constantine V sebagai kaizar
Byzantinium menetapkan ketentaraannya di pulau ini. Dan hampir selamanya 50
tahun tentara Islam tidak lagi melakukan upaya-upaya ekspansinya. Malah
sebaliknya, tentara Byzantium terus menerus melakukan ancaman terhadap
wilayah-wilayah Islam di Afrika Utara ini. Untuk menangkis serangan ini,
gubernur Afrika Utara terpaksa membuat pangkalan militer di Tropoli
(Libia).
Sejauh perjuangan dan
upaya yang dilakukan oleh umat Islam, tetap belum mampu menembus pertahanan
pasukan penjaga pulau tersebut. Bukan tidak mungkin hal itu yang memaksa pihak
Islam untuk berhenti sejenak dan mencari strategi baru, hingga pada akhirnya
umat Islam sepenuhnya menaklukkan Sisilia.
Penaklukan Sisilia
sebenarnya dilatar belakangi oleh adanya konflik penguasa Romawi. Kaisar Romawi
memerintahkan gubernur Sisilia Constantin untuk menangkap Euphemius, seorang
komandan tentara Byzantium di Sisilia. Perintah penangkapan tersebut oleh
pasukan Euphemius, pertempuran tidak terelakkan. Ketika terdesak, Euphemius
meminta bantuan kepada Ziyadatullah dan menawarkan kekuasaan atas Sisilia.
Tawaran itu diterima oleh Ziyadatullah.
Pada tahun 827 M (212 H),
Ziyadatullah memerintahkan orang kepercayaannya Assad Bin Al-Furad untuk
melaksanakan penyerbuan. Ekspedisi yang berlangsung selama dua
tahun dan memakan korban. Pada tahun 831 (216H), Palermo pun dapat
dikuasai sehingga pasukan Aqlabi terus dapat Mengokohkan kedudukan di Sisilia,
terutama bagian barat Val di Mazzara , tetapi ibu kotanya sendiri,
Castrogiofanni (dulunya syiracuse) baru dapat diduduki pada tahun
859 M (245 H). Kegembiraan pasukan Aqlab ini juga ditandai dengan pengiriman
rampasan perang kepada khalifah Bagdad Al Mutawakkil (w. 861 M/247 H). Pada
tahun 902 M (289 H). Pulau Sisilia secara penuh dikuasai tiga perempat
abad setelah ekspansi pertama mereka.
Sehingga Sisilia berada
di bawah pemerintahan Muslim dengan Palermo sebagai ibu kotanya. Sisilia berada
di bawah kekuasaan Islam oleh pemerintahan Aqlabiyah dan kemudian
dibawah gubernur-gubernur Fatimiyah sampai penaklukan oleh
orang-orang Norman pada abad kesebelas.
Gubernur-gubernur
Fatimiyah sendiri, sangat tertarik khususnya untuk menguasai Sisilia, karena
alasan-alasan politik dan ekonomi mereka ingin mendirikan negara besar laut
tengah dan merencanakan untuk membuat Sisilia sebagai pangkalan angkatan
bersenjata (laut),
supaya bisa menangkis serangan dari Bizantium
di pantai-pantai Afrika dan berhasil mewujudkan ambisi-ambisi mereka di Afrika
Utara dan Mesir dari sudut pandang ekonomi, mereka berpendapat bahwa Sisilia
adalah daerah produktif yang akan memakmurkan mereka.
Pada tahun 830 M Asbagh
bin Wakil seorang barbar Andalus, menundukkan Palermo dan sejak itu Palermo
menjadi ibu kota pemerintahan Islam Sisilia, dengan wali pertamanya Abu Fihr
Muhammad bin Abdullah. Penaklukkan terus dilanjutkan oleh Ibrahim bin Abdullah
yang berhasil menguasai Pantellaria, Eulian, Tindano dan wilayah Val di
Mazarra.]Fadl bin Ja`far menguasai Messina, Rogusa dan Lentini. Pada tahun
902 M seluruh Sisilia dikuasai oleh kaum muslimin di bawah pimpinan Bani Aghlab
yang setelah menghabiskan waktu dari tahun 827–902 M.Kemudian berdirilah
pemerintahan di bawah dinasti yaitu Bani Aghlab, Fathimiyah, Kalbiyah dan
Normandia.
3. Penguasa Sisilia
a. Dinsti Bani Aghlab (
903 – 909 M )
Dinasti Bani Aghlab yang
berpusat di Tunisia mengangkat lima orang gubernur dengan gelar amir, wali atau
shahib di Sisilia dengan ibu kota Palermo. Para gubernur mempunyai kekuasaan
penuh dalam hal perang atau damai, pembagian harta rampasan, mencetak uang,
menentukan pajak, mengangkat kadi, badan kota Praja, pengaturan tentang tanah.
Penduduk Sisilia saat itu berbagai ras dan agama; Islam, Kristen, Yahudi, Bangsa
Sisilia, Yunani, Lombard, Arab, Barbar, Persia, Negro. Bangsa Arab menjadi
penguasa, mayoritas penduduk muslim adalah keturunan bangsa Barbar, Sisilia dan
Arab.
Ketika dikuasai dinasti
muslim itu, populasi penduduk Sicilia bertambah seiring datangnya imigran
muslim dari Afrika, Asia, Spanyol dan Barbar. Di setiap kota di Sicila
dilengkapi dengan sebuah dewan kota. Pada zaman ini mulai diperkenalkan
reformasi agraria. Hal itu dilakukan agar tanah tak cuma dikuasai orang-orang
kaya saja. Irigiasi juga mulai diperkenalkan, sehingga sektor pertanian
berkembang pesat. Pada abad ke-10 M, Sisilia menjadi Provinsi di Italia yang
paling padat dengan jumlah penduduk mencapai 300 ribu jiwa.
b. Dinasti Fathimiyah
(909 - 965 M)
Pada tahun 909 M Ali bin
Ahmad bin Abi al-Fawaris salah satu gubernur daulah Fathimiyah yang berpusat di
Mesir, menggulingkan Ahmad bin Husen gubernur Dinasti Aghlabid yang terakhir.
Dalam masa transisi dari Aghlab ke Fatimiyah di Sisilia, juga terjadi
pergolakan namun pergolakan di sini bukan karena masalah politik tetapi masalah
yang sifatnya agamis yaitu pertentangan antara Syiah dan Sunni. Tetapi dalam
jangka waktu yang tidak lama Fathimiyah bisa mengatasinya.
Gubernur-gubernur dinasti
Fathimiyah di Sisilia antara lain Ziyadatullah bin Qurthub, Abu Musa al-Dayf,
Salim Rasyid dan Khalil bin Ishaq. Di bawah para gubernur ini, dinasti
Fatimiyah membangun peradaban Islam dengan berbagai kemajuan. Gubernur dinasti
Fatimiyah yang terkuat adalah Hasan bin Ali al-Kalby keturunan Arab suku Kalb yang
kemudian mendirikan dinasti Kalbiyah di Sisilia, namun ia tetap setia kepada
Fathimiyah.
c. Dinasti Kalbiyah ( 965
- 1044 M )
Dinasti Kalbiyah berkuasa
selama 80 tahun. Hasan dapat menaklukkan daerah Kristen di sebelah utara
Sisilia , Tormina kemudian merubah nama kota itu menjadi Mu`izziyah sebagai
penghormatan terhadap khalifah Fathimiyah Muiz. Sejak tahun 948 M,
Khalifah Fatimiyah, Ismail Al-Mansur mengangkat Hassan Al-Kalbi sebagai emir
Sisilia. Secara defakto, Emirat Sisilia terlepas dari pemerintahan Fatimiyah di
Mesir. Lalu digantikan Emir yang baru bernama Abu Al-Qasim (964 M-982 M). Pada
masa kedua emir itu berkuasa, muslim Sisilia bertempur dengan Bizantium.
Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat
Islam. Pada 1061 M, Sisilia lepas dari tangan umat Islam
d. Dinasti Normandia
Pada masa dinasti
Normandia ini kekuasaan dinasti Islam telah berakhir namun kebudayaan Islam
masih berkembang.
1) Rogger I dan II ( 1091
- M)
Walaupun Rogger I dan II
beragama Kristen tetapi ia memperlakukan umat Islam dengan baik. Bahkan Rogger
II yang beragama Kristen mendapat gelar Mu`taz billah . Palermo tetap sebagai
ibu Kota negara, pejabat negara dan tentara tetap menggunakan orang orang
Islam. Rogger I dan II masih mengagumi kehebatan kebudayaan dan intelektual
Islam , mahir bahasa Arab, memakai baju kebesaran raja-raja Islam. Kehidupan
istana menyerupai kehidupan raja-raja Islam. Menggunakan bahasa Arab sebagai
salah satu bahasa resmi. Mahkamah menyerupai Mahkamah Agung Byzantium tetapi
upacara-upacaranya menyerupai Mahkamah Arab. Perkembangan ilmu pengetahuan
berkembang dengan pesat pada zaman Normandia, karena Roger II sangat tertarik
dengan matematika, administrasi dan ilmu bumi, karena pada masa ini muncul
intelektual muslim yang terkenal al-Idrisi.
Al-Idris Nama lengkapnya
Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah Ibn Idris Ash-Sharif , Ia
dilahirkan di Ceuta, Spanyol ( 1099-1166), dan belajar di Cordova. Orang barat
mengakuinya sebagai seorang ahli geografi, yang telah membuat bola dunia dalam
bentuk globe dari bahan perak seberat 400 kilogram yang dilengkapi dengan Kitab
Al-Rujari (Roger's Book).untuk Raja Roger II dari Sisilia. Ia ahli geografi dan
kartografi terbesar di abad pertengahan. Saat itu Idris menjadi sangat dikenal
dan mulai dilirik oleh kalangan navigator laut Eropa serta kalangan militer.
Kemudian Idris membuat kitab Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq (Kesenangan
untuk Orang-orang yang Ingin Mengadakan Perjalanan Menembus Berbagai Iklim)
sebuah ensiklopedi yang berisi peta secara detil dan informasi lengkap
negara-negara Eropa. Idris membuat kembali sebuah kompilasi ensiklopedi yang
lebih komperhensif berjudul Rawd-Unnas wa-Nuzhat al-Nafs (Kenikmatan Lelaki dan
Kesenangan Jiwa). Idris juga ahli di bidang ilmu kedokteran, Ia menyusun sebuah
buku berjudul al-Jami-li-Sifat Ashtat al-Nabatat, menjelaskan nama-nama obat
dalam beberapa bahasa, termasuk Berber (Arab), Suriah, Persia, Hindi, Yunani
dan bahasa latin.. Beberapa karyanya telah dialih bahasakan kedalam bahasa
latin , bukunya sangat populer di daratan Eropa dan telah diterbitkan di Roma
pada tahun 1619. Christopher Columbus, juga menggunakan peta asli yang dibuat
oleh Idris sebelumnya .
2) William I dan II
Pada masa Penguasa Dinati
Normandia di tangan William I dan II (beragama kristen) umat Islam diperlakukan
dengan tidak baik, namun William mengagumi kehebatan kebudayaan dan Intelektual
Islam. Palermo tetap sebagai ibu Kota negara, dan ia menggelari dirinya dengan
al-Musta`iz Billah.
'Kota dengan 300 masjid.'' Begitulah penjelajah Arab terkemuka,
Ibnu Hawqal menggambarkan suasana Palermo, ibu kota Sicilia yang berada di
wilayah Italia selatan pada tahun 972 M. Dalam catatan perjalanannya,
Al-Masalik wal Mamlik, Ibnu Hawqal mengaku tak pernah menemukan sebuah kota
dengan jumlah masjid sebanyak itu, sekalipun luasnya dua kali lebih besar dari
Palermo.
Pada saat yang sama, pelancong Muslim kondang itu juga menyaksikan
kehebatan University of Balerm - sebuah perguruan tinggi Islam terkemuka di
kota Palermo, Sicilia. Hampir selama tiga abad lamanya, umat Muslim di era
keemasan berhasil mengibarkan bendera kejayaan dengan peradabannya yang
terbilang sangat tinggi di wilayah otonomi Sicilia.
Dari wilayah itulah, ilmu pengetahuan yang dikuasai umat Islam ditransfer ke peradaban Barat. Pengaruh Islam begitu besar dalam peradaban masyarakat Sicilia. Selama tiga abad berada dalam kekuasaan Islam, kawasan Sicilia pun berkembang menjadi pusat peradaban dan perniagaan. Sicilia pun sempat menjadi salah satu wilayah primadona di benua Eropa. Islam bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukan dari kekuasaan Bizantium. Dinasti Aghlabid merupakan sebuah kekhalifahan Muslim Arab yang menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia dan Tripoli.
Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia. Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengkandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Serangkaian pertempuran demi pertempuran dilalui pasukan Dinasti Aghlabid hingga akhirnya satu per satu kota di Sicilia sepenuhnya berhasil dikuasai umat Islam.
Secara resmi, kota Palermo ditaklukan umat Islam pada tahun 831 M. Sedangkan, Messina dikuasai pasukan Muslim 12 tahun berikutnya. Sejak wilayah Enna berhasil direbut dari Bizantium pada 859 M, provinsi Sicilia sepenuhnya berada dalam genggaman umat Islam. Di bawah kekuasaan umat Islam, Sicilia menjadi provinsi yang multietnis.
Beragam suku dan etnis, seperti orang Sicilia, Arab, Yahudi, Barbar, Persia, Tartar, Negro berbaur dalam toleransi dan keharmonisan. Tak ada pembantaian terhadap penduduk yang beragama Nasrani. Penduduk Sicilia yang beragama Nasrani dilindungi dan dihormati kebebasannya dalam menjalankan aktivitas peribadatan.
Penguasa Muslim hanya membebankan pajak kepada penganut agama Nasrani. Hak milik dan usaha mereka dilindungi penguasa Muslim. Pun demikian terhadap warga Yahudi yang berada di kawasan kota pantai. Penguasa Muslim menghormati hak hidup dan melindungi kebebasan umat beragama lain dalam menjalankan ibadah.
Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordova. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah -- tempat bersemainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.
Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.
Penjelajah Muslim, Ibnu Jubair, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia. Dalam buku perjalanannya, Ibnu Jubair, melukiskan kemajuan pesat yang dicapai Palermo, ibu kota Sicilia. ''Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengkombinasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,'' papar Ibnu Jubair.
Bahasa Arab pun menjadi bahasa pengantar masyarakat Sicilia. Ibnu Jubair menyaksikan wanita dan pria Kristen pun sehari-hari berbicara dengan bahasa Arab. Kehadiran Islam di Sicilia seakan menjadi berkah bagi masyarakatnya. Perekonomian Sicilia menggeliat setelah berada dalam kekuasaan umat Islam. Industri tekstil tumbuh pesat di era kejayaan Islam di salah satu wilayah otonomi negeri Spagheti itu.
Industri kerajinan pun tumbuh dan berkembang pada saat itu. Kehadiran Islam di tanah Sicilia juga memberi pengaruh yang besar terhadap bidang pertanian. Para petani dan sarjana Muslim memperkenalkan teknik-teknik baru pertanian serta benih tanaman yang unggul. Akibatnya, roda perekonomian ekonomi lokal bergerak begitu cepat.
Buah jeruk merupakan komoditas agrobisnis terkemuka yang dihasilkan para petani Sicilia. Penguasa Islam juga memperkenalkan dan mengembangkan saluran irigasi di wilayah itu. Teknologi pertanian yang diwariskan umat Islam itu tetap digunakan masyarakat Sicilia, sekalipun umat Islam tak lagi berkuasa di wilayah itu.
Periode kekuasaan Islam di Sicila merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan. Pada era itulah masyarakat Sicila merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menjelaskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania. Kawasan itu bersama Tunisia menjadi persimpangan rute perdagangan.
Kafilah dari Sijlimasa, selatan Maroko membawa beragam komoditas dari Afrika dan Maroko untuk dijual ke palermo dan Mazara. Sicilia menjadi jembatan perdagangan antara Muslim di Timur dengan Muslim di Barat. Akhir abad ke-10, Sicila menjadi produsen utama kain sutera. Pada era itu, Sicila sudah mulai menggunakan koin emas atau ruba'ya yang benilai seperempat dinar. Mata uang itu sungguh bernilai di kota-kota perdagangan lain seperti Mesir, Suriah dan Palestina.
Sayangnya, kekuasaan umat Islam di Sicilia harus berakhir pada tahun 1061 M. Kekuatan umat Islam yang lemah dimanfaatkan bangsa Normandia. Sejak itu, dominasi Islam pun lenyap dari bumi Sicila. Meski begitu pengaruh dan peradaban yang diwariskannya masih tetap dapat disaksikan hingga sekarang.
Para Penguasa Muslim di Sicilia
Dinasti Aghlabid (827 M - 909 M)
Selama 82 tahun, Sicila berada dalam kekuasaan Dinasti Aghlabid yang berpusat di Tunisia. Ketika dikuasai dinasti Muslim itu, populasi penduduk Sicilia bertambah seiring datangnya imigran Muslim dari Afrika, Asia, Spanyol dan barbar. Semua penduduk Muslim itu terpusat di kepulauan selatan.
Dinasti Aqhlabi menempatkan seorang amir sebagai pejabat gubernur di ibu kota Sicilia, Palermo. Di setiap kota di Sicila dilengkapi dengan sebuah dewan kota bernama gema. Ketika Islam berkuasa banyak penduduk Sicilia yang menganut agama Islam, sebagian lainnya tetap memuk agama Kristen. Pada era dinasti itu, mulai diperkenalkan land reform atau reformasi agraria. Hal itu dilakukan agar tanah tak cuma dikuasai orang-orang kaya saja. Irigiasi juga mulai diperkenalkan, sehingga sektor pertanian berkembang pesat. Pada abad ke-10 M, Sicila menjadi provinsi di Italia yang paling padat dengan jumlah penduduk mencapai 300 ribu jiwa.
* Dinasti Fatimiyah (909 M - 965 M)
Pada tahun 909 M, kekuasaan Dinasti Aghlabid dari Afrika di Sicilia diambil alih Dinasti Fatimiyah. Wilayah itu awalnya menjadi bagian dari provinsi Fatimiyah yang berpusat di Mesir. Empat tahun berkuasa, gubernur Fatimiyah diusir dari Palermo. Kepulauan itu lalu mendeklarasikan kemerdekaannya di bawah kepemimpinan seorang Emir bernama Ahmed ibnu Kohrob. Sicilia kembali dikuasai Dinasti Fatimiyah pada 917 M. Selama 20 tahun lamanya, Sicilia dipimpin seorang gubernur dari Fatimiyah. Pada 937 M, bangsa barbar mengambil alih Sicilia.
Emirat Sicilia (965 M - 1091 M)
Sejak tahun 948 M, Khalifah Fatimiyah, Ismail Al-Mansur mengangkat Hassan Al-Kalbi sebagai emir Sicilia. Secara defakto, Emirat Sicilia terlepas dari pemerintahan Faimiyah di Mesir. Lalu dia digantikan Emir yang baru bernama Abu Al-Qasim (964 M - 982 M). pada masa kedua emir itu berkuasa, Sicilia Muslim bertempur dengan Bizantium. Setelah itu, kekuasaan Islam meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam. Pada 1061 M, Sicilia lepas dari tangan umat Islam.
Pintu Gerbang Ilmu Islam ke Barat
Sebagai bekas wilayah kekuasaan Islam, Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat. Wilayah otonomi di selatan Italia itu telah menjadi gerbang transfer ilmu pengetahuan dari dunia Muslim ke Barat. Michelle Amari merupakan sejarawan yang telah membuktikan bahwa dari Sicilia-lah ilmu pengetahuan yang dikuasai umat Islam di era keemasan ditransfer ke Barat.
Transfer ilmu pengetahuan Islam ke dunia Barat mulai dilakukan oleh Frederick II (1194 M - 1250 M) - penguasa Sicilia. Frederick masih menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di kerajaan yang dipimpinnya. Ia mengumpulkan sarjana Muslim dan Yahudi untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab. Bahkan, dia mengirim Michael Scot ke Cordoba untuk mencari kitab-kitab yang ditulis Ibnu Sina.
Frederick adalah raja beragama Kristen. Namun, dia begitu terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Sehingga, Bapak Sejarawan Sains, George Sarton mengatakan, ''Frederik itu setengah Muslim dengan caranya sendiri.'' Ketika dia berkuasa, University of Naples pada tahun 1224 M - universitas pertama di Eropa menggunakan sistem pendidikan yang dikembangkan pergurun tinggi Islam. Dari Sicilia pula sistem fiskal yang sempat diterapkan penguasa Islam ditransfer ke Inggris.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
Enan M.A., Disiscive Moment in
History of Islam, diterjemahkan oleh Mahyuddin Syaf, dengan judul, Detik-detik
menentukan dalam Sejarah Islam, Cet.I; Surabaya: PT Bina Ilmu, t.th.
E.Curtis. Roger of Sicily and Normans
in Lower Italy 1016 – 1154, London: 1912.
Grunembaun Gustave E.Van, Unity dan
variety in Muslim Civilation, Cet. I; Jakarta: Karya Uni Press, 1983.
Hamka, Sejarah Ummat Islam, Jakarta:
NV Nusantara, Jilid II 1961.
Hammond, Headline World Atlas, New
Jersey: Hammond Incorporated Maplewood, 1969.
Hitti Philip K, History of the Arab,
London: The Macirillan Press Ltd, 1974.
Thohir Ajid, Perbandingan Peradaban
di Kawasan Dunia Islam (Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya
Umat Islam), Cet.I; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
Replubika.com
